Senin, 01 November 2010

Kisah Perjuangan Kemerdekaan

DARI BANGKU SEKOLAH KE MEDAN LAGA
Penyerangan terhadap Pertahanan Inggris Di Wonokromo
Asrama Sawunggaling,

Hari ini tepat tanggal 27 Oktober 1945, di asrama sawunggaling nampak jelas kesibukan penghuninya. Para perwiranya Mayor Rono Kusumo, Kapten Sobiran tidak melakukan kegiatan latihan, tapi mereka mengadakan rapat. Matahari sudah mulai condong ke barat ketika pada pukul 15.30 seluruh anggota dikumpulkan, dan diumumkan bahwa seluruh pasukan Sawunggaling akan keluar kota untuk mengamankan senjata-senjata.

“Mengapa harus keluar kota? Bukankah kita dibutuhkan bersama kawan-kawan dan pemuda rakyat mempertahankan kehormatan bangsa khususnya kota Surabaya?”, teriak Slamet, pemuda yang berasal dari Madura yang terkenal keberingasannya.

“Benar! Kita bertahan!”, terdengar teriakan bersahutan.“Saudara-saudara dengarkan! Kita tidak melarikan diri atau menghindari pertempuran! Pegang senapan saja belum benar, belum pula diajari cara menembak. Pasukan ini bukan pasukan sembarangan, bukan Laskar Rakyat! Mulai sekarang belajarlah berdisiplin. Ikuti apa yang diperintahkan komandan! Jam 17.30 kita berkumpul kembali untuk siap berangkat”, tegas Kapten Sobiran.

Sambil membubarkan diri terdengar disana-sini ucapan sumpah serapah. “Brengsek..! Kota sudah mulai ramai pertempuran dan kita malahan menjauh.
Kalau kita nanti tidak dilibatkan pertempuran di kota, saya akan keluar dari pasukan ini........ancamnya...........!”

“Sial! Memalukan! Kamu yang ngajak saya kemari”, geram Yono melontarkan kata-kata ditelingaku.
Kekecewaan terbayang diwajah teman-teman yang sudah tidak sabar ingin ikut bertempur membela negara kita dari kaum penjajah tentara sekutu.
Tanda telah diberikan dan kita berbondong-bondong berkumpul. Pasukan dibagi menjadi 4 seksi. Saya berada diseksi 3 dengan Komandan Kapten Djamal.
Kecuali teman sekelas di SMP Praban, tidak banyak kita saling mengenal. Dilihat sepintas Pasukan Sawunggaling merupakan pasukan yang dapat dibanggakan, karena setiap anggota memegang senjata Karaben Belanda atau senapan Jepang dan wajah-wajah anggota memancarkan keberanian dan percaya diri yang luar biasa.

SETIAP KITA MENDAPAT TANTANGAN,
ITU PERTANDA KITA BERJUANG
DAN SETIAP ORANG YANG BERJUANG
PASTI MEMPEROLEH KEMENANGAN

“Pasukan 159 orang siap!”, lapor Kapten Sobiran.
“Saudara-saudaraku! Kita akan keluar kota menuju Sepanjang. Senapan diisi dan siap tempur. Kita akan melalui pos-pos dan penjagaan pertahanan tentara sekutu, maka kewaspadaan yang tinggi sangat diperlukan. Bila melihat dan bertemu tentara Inggris awasi dan perhatikan, tetapi jangan sekali-kali mendahului menembak. Jika mereka mengadakan gerakan yang mencurigakan atau mulai menembak, baru kita serang mereka.
Wakkare Kah?”, Mayor Rono Kusumo memberi perhatian.
“Hai!”, teriak kita bersama.

“Seksi-seksi maju berjajar! Tepi kiri-kanan jalan dan waspada!”
Keremangan senja , membuat jarak pandang mata berkurang.
“Lihat di sebelah kanan di bawah pohon, 20 meter depan kita!”, bisikku kepada Soeshandoko yang berjalan dibelakangku.
“Ya, 2 orang Gurkha. Senapan sudah diisi? Mereka tiarap dengan senapan ditujukan pada kita”, sahutnya.
Bulu kudukku berdiri mengingat maut demikian dekat dihadapanku, tanpa kita boleh menembak bila tidak terpaksa. Batinku menerawang ke Bunda tercinta.
“Lindungilah putramu, Ibu!”, doaku.
Namun syukurlah kita melewati mereka tanpa terjadi insiden. Mungkin mereka telah mendapatkan peringatan dari komandannya yang sama seperti yang diperingatkan kepada kita.
Beberapa pos pertahanan kita lewati dan kekhawatiran hilang diganti rasa kesal dan lelah, hanya suara sepatu yang mengiringi pada setiap langkah.
Perjalanan diteruskan sampai Pabrik Gula Ketegan. Suatu perjalanan yang melelahkan dan dilakukan dengan setengah hati. Tidak heran begitu tiba di tempat istirahat kami langsung merebahkan diri diiringi suara mendengkur bersahutan.


bersambung................

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar